Catatan Herbarium
Buah yang terus bernapas
Setelah dipetik, buah tidak mati — ia bernapas, menua, dan sebagian melepaskan gas yang mempercepat semuanya.
5 menit baca
Seorang pedagang di pasar induk pernah berkata bahwa buah yang baru dipetik itu "masih hidup, hanya sudah tidak punya rumah". Ia benar. Setelah terlepas dari pohon, buah terus bernapas: menyerap oksigen, melepas karbon dioksida, dan membakar cadangan gulanya sendiri.
Dua cara menua
Para ahli pascapanen membagi buah menjadi dua kelompok. Buah klimakterik — pisang, mangga, apel, pir, alpukat — mengalami lonjakan napas menjelang matang, dan lonjakan itu dipicu serta disertai pelepasan etilen. Buah non-klimakterik — jeruk, anggur, stroberi — tidak mengalami lonjakan itu; mereka tidak menjadi lebih matang setelah dipetik, hanya pelan-pelan menua.
Buah klimakterik tidak menunggu izin untuk matang. Ia hanya menunggu sedikit etilen — dan ia membuatnya sendiri.
Etilen sebagai pesan
Etilen adalah gas paling sederhana yang menjadi hormon tumbuhan. Satu buah yang mulai matang melepaskannya, dan buah di dekatnya membaca pesan itu sebagai tanda untuk ikut matang. Karena itulah satu tandan pisang menguning hampir bersamaan, dan satu buah busuk di peti bisa mempercepat seluruh isi peti.
Sachet penyerap etilen bekerja dengan menangkap pesan itu sebelum sampai ke buah lain. Buahnya tetap bernapas — tidak ada yang dihentikan — hanya saja percakapan di dalam peti menjadi lebih pelan.
Esai berikutnya · IIRuang yang dibagi bersama